Feeds:
Pos
Komentar

Bila Cinta…

Hati kecilku telah berbicara jauh hari sebelum kita bertemu. Seperti benda yang jatuh ke tanah akibat gravitasi, demikianlah hatiku akan jatuh ke hatimu karena cinta dari Tuhan. Aku bukanlah seorang peramal, tetapi seorang pengembara di gurun pasir yang tahu persis dimana letak mata air yang melegakan dahaga.

Bukan elok yang kucari karena mataku ini mudah tertipu, seperti kulihat
putih yang terpadu dari rangkaian warna. Tetapi kecantikan terpancar dari hati yang tak akan keriput oleh waktu. Aku akan mampu bertahan dari rayuan ombak laut yang menghanyutkan selama tanganmu mencengkram erat hatiku dan tak membiarkannya lepas.

Bila cinta itu seperti perang, aku akan bertempur sebagai pemenang.
Bila cinta itu seperti perjalanan, aku akan menemanimu hingga ujung.
Bila cinta itu adalah impian, aku akan berusaha mewujudkan mimpimu.
Bila cinta itu adalah doa, aku akan meminta Tuhan diriku sebagai jawaban atas doamu.

 

Khayal

Waktu sudah lama berlalu sejak khayalan masa kecil mengepung pikiran dan alam bawah sadar. Saya mencoba mengingat-ingat lagi khayalan itu. Beberapa khayalan itu kini mengapung di alam nyata, beberapa lagi melayang sekian meter di bawah permukaan, dan sisanya lagi tenggelam dan terhanyut bersama keceriaan masa kecil.

Sampai kini khayal itupun masih tetap ada. Ia tinggal bersama harapan dan menyelinap di antara kerumunan realitas.  Terkadang ia mudah dicerna tanpa harus mengutak-atik kalkulus, namun di lain waktu ia tampil dalam bilangan imajiner nan kompleks.

Khayalan menyedapkan kehidupan yang terasa hambar, namun terlalu banyak tidaklah baik karena dapat mengaburkan rasa. Khayal itu memacu kreativitas, tetapi tanpa perbuatan, waktu akan terbuang sia-sia.

Bunga Tidur

Lompatan cerita tak beralur
Mengurai ilusi indah tak terukur
Bagai simfoni jazz berpadu dengkur

Terkadang kenangan itu muncul lagi
Meski telah kutinggal jauh pergi
Agar cintaku hidup kembali

Sesekali masa depan terungkap
Kulihat ia dalam potongan sinema tak lengkap
Percuma saja kataku, bagai angin tak mampu kutangkap

Malam

Malam masa kini tidaklah segelap dan sehening malam dahulu kecuali pada beberapa lokasi yang masih alami dan belum terjamah teknologi. Dahulu bulan bagai ratu yang wajahnya ayu kuning merona, tetapi kini kecantikannya mulai pudar oleh kerlap-kerlip lampu di sepanjang jalan. Bahkan jangkrik dan tokek pun harus mengakui bahwa suaranya terkalahkan  bising mesin kendaraan dan kemeriahan acara televisi.

Manusia kini sudah mulai melupakan siklus alaminya, bekerja atau sekedar menghabiskan waktu di malam hari dan kemudian terkantuk di siang hari, seolah bergerak melawan perputaran bumi mengelilingi matahari. Namun manusia tidak dapat lepas dari sifat alaminya yaitu takut akan kegelapan, sementara tanpa sadar terang buatan yang diciptakannya membuatnya tidak sadar akan kegelapan yang sesungguhnya, dan melupakan terang sejati.

Mengapa sebagian besar orang takut akan kegelapan? Bukankah dalam gelap kita bisa tertidur nyenyak. Dan bukankah doa-doa yang kita panjatkan akan lebih khidmat bila dilakukan dalam gelap dengan mata terpejam?

Tapi saya akan setuju bila kegelapan yang dimaksud adalah saat dimana mata hati tidak bisa melihat arah dan tujuan hidup. Saat itulah saya akan meraba-raba dinding hati mencoba menemukan pelita yang masih tersisa di setiap sudut, dan tentu saja meminta Tuhan untuk menyalakannya kembali.

Siang

Dari bawah langit saya melihat matahari tertawa geli. Jangan anggap saya gila! Saat ini saya sedang terbawa fantasi masa kecil yang suka melukis matahari lengkap dengan mata dan bibir tersenyum.
Entah apa yang ada di pikiran sang matahari, yang jelas di bawah sini anak manusia berlelah ria di bawah teriknya, dan sebagian lagi berlindung di dalam gedung-gedung hingga gubuk dan tenda kecil.

Ikan di laut pasti tahu bahwa air makin lama makin berkurang dihirup matahari, tetapi sang nelayan nan bijaksana mengerti bahwa air itu akan kembali dalam bentuk rintik hujan.

Bagi katak kecil, hujan tampak seperti pertanda bencana. Bunyi rintik hujan dan sambaran petir menakutkannya, belum lagi bila air tergenang makin lama makin tinggi. Namun bagi anak kecil nan periang, hujan adalah temannya bermain, belum lagi bila dilihatnya indah warna-warni pelangi.

Pelangi hanya tampak sebentar sekali. Tampaknya Tuhan mengerti benar bahwa manusia itu mahluk pembosan sehingga Ia memunculkan pelangi tidak begitu sering. Mungkin matahari adalah contoh baik manusia pembosan karena ia tak pernah berhenti menyinari bumi.

Bumi bergerak seakan mengikuti kehendak manusia yang menginginkan pagi, siang, dan malam bergantian. Tetapi sang matahari sudah diciptakan Sang Khalik untuk selalu setia menjaga kelangsungan hidup manusia.

Pagi

morning

Saya sangat senang dengan suasana pagi hari. Matahari terlihat masih menahan kantuk dan matanya sayup, saat itulah pandangannya terlihat teduh dan damai. Udara tak tampak seperti biasanya, kali ini ia begitu polos dan lugu, seperti belum tercemar oleh asap dan debu. Ayam pun bersukacita menyambut pagi. Entah ia ingin membanggakan diri karena yang pertama menyambut pagi atau tulus memberi kabar kepada yang masih tertidur, yang jelas ia berkokok dengan suara yang tidak begitu merdu dibandingkan kicau burung.

Memang suasana yang menyenangkan ini tidak bertahan lama, rutinitas memanggil saya untuk lekas menikmati guyuran air yang menyegarkan dan kemudian menyantap hidangan lezat buatan ibu tersayang. Lagi dan lagi ini adalah alasan saya menyukai pagi. Tetapi waktu seakan memiliki roda yang membuatnya tidak diam di tempat. Dengan kecepatan yang konstan jarum jam bergerak dan memaksa saya bergegas memenuhi panggilan hidup. Yah, bekerja adalah panggilan hidup, terasa berat memang, tapi untunglah suasana pagi sudah cukup menghibur dan memberi bekal cukup untuk menjalani siang.

Seperti kehilangan harta dan kekayaan
Demikianlah seseorang yang dikhianati sahabatnya
Seperti roh meninggalkan tubuh
Demikianlah seseorang yang kehilangan cintanya
Seperti jatuh dari atap yang tinggi
Demikianlah seseorang yang diperlakukan tidak adil

Ada satu hal yang mendahului yang kedua, ketiga, dan yang lainnya
Mengampuni yang menyembuhkan jiwa; Rasanya seperti aliran air deras yang membilas amarah
Ada dua yang bermegah di atas yang pertama, ketiga, dan yang lainnya
Kesabaran dan ketegaran; Kaki-kakinya menghantarkan raga ke tujuan
Ada tiga yang melampaui jauh di antara yang pertama, kedua, dan yang lainnya
Pemulihan, sukacita, dan harapan; Bagai sayap-sayap terbang yang melaju di atas hambatan angin

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.