Malam masa kini tidaklah segelap dan sehening malam dahulu kecuali pada beberapa lokasi yang masih alami dan belum terjamah teknologi. Dahulu bulan bagai ratu yang wajahnya ayu kuning merona, tetapi kini kecantikannya mulai pudar oleh kerlap-kerlip lampu di sepanjang jalan. Bahkan jangkrik dan tokek pun harus mengakui bahwa suaranya terkalahkan bising mesin kendaraan dan kemeriahan acara televisi.
Manusia kini sudah mulai melupakan siklus alaminya, bekerja atau sekedar menghabiskan waktu di malam hari dan kemudian terkantuk di siang hari, seolah bergerak melawan perputaran bumi mengelilingi matahari. Namun manusia tidak dapat lepas dari sifat alaminya yaitu takut akan kegelapan, sementara tanpa sadar terang buatan yang diciptakannya membuatnya tidak sadar akan kegelapan yang sesungguhnya, dan melupakan terang sejati.
Mengapa sebagian besar orang takut akan kegelapan? Bukankah dalam gelap kita bisa tertidur nyenyak. Dan bukankah doa-doa yang kita panjatkan akan lebih khidmat bila dilakukan dalam gelap dengan mata terpejam?
Tapi saya akan setuju bila kegelapan yang dimaksud adalah saat dimana mata hati tidak bisa melihat arah dan tujuan hidup. Saat itulah saya akan meraba-raba dinding hati mencoba menemukan pelita yang masih tersisa di setiap sudut, dan tentu saja meminta Tuhan untuk menyalakannya kembali.
Malam itu mistis bagi sebagian orang, bagi saya malam selalu syahdu dan isnpiratif. Selamat pagi sahabat. terimakasih untuk mengunjungi blog WP saya (he, sedang belajar bahasa Inggris disana).
Malam itu romantis dan takkan tergantikan oleh siang ataupun pagi
Setuju