Dari bawah langit saya melihat matahari tertawa geli. Jangan anggap saya gila! Saat ini saya sedang terbawa fantasi masa kecil yang suka melukis matahari lengkap dengan mata dan bibir tersenyum.
Entah apa yang ada di pikiran sang matahari, yang jelas di bawah sini anak manusia berlelah ria di bawah teriknya, dan sebagian lagi berlindung di dalam gedung-gedung hingga gubuk dan tenda kecil.
Ikan di laut pasti tahu bahwa air makin lama makin berkurang dihirup matahari, tetapi sang nelayan nan bijaksana mengerti bahwa air itu akan kembali dalam bentuk rintik hujan.
Bagi katak kecil, hujan tampak seperti pertanda bencana. Bunyi rintik hujan dan sambaran petir menakutkannya, belum lagi bila air tergenang makin lama makin tinggi. Namun bagi anak kecil nan periang, hujan adalah temannya bermain, belum lagi bila dilihatnya indah warna-warni pelangi.
Pelangi hanya tampak sebentar sekali. Tampaknya Tuhan mengerti benar bahwa manusia itu mahluk pembosan sehingga Ia memunculkan pelangi tidak begitu sering. Mungkin matahari adalah contoh baik manusia pembosan karena ia tak pernah berhenti menyinari bumi.
Bumi bergerak seakan mengikuti kehendak manusia yang menginginkan pagi, siang, dan malam bergantian. Tetapi sang matahari sudah diciptakan Sang Khalik untuk selalu setia menjaga kelangsungan hidup manusia.
Wah, ada yg baru d sini. Selamat pagi matahari.
Siang, sebagaimana pagi, sore dan malam, punya kisahnya sendiri. Sebagimana “Siang” yang tertuang disini.
Ini tulisan sequel pagi ya? judul berikutnya malam?
jago juga bikin puisinya..
puisinya dimulai dr pagi hingga malam..