Feeds:
Tulisan
Komentar

Pagi

morning

Saya sangat senang dengan suasana pagi hari. Matahari terlihat masih menahan kantuk dan matanya sayup, saat itulah pandangannya terlihat teduh dan damai. Udara tak tampak seperti biasanya, kali ini ia begitu polos dan lugu, seperti belum tercemar oleh asap dan debu. Ayam pun bersukacita menyambut pagi. Entah ia ingin membanggakan diri karena yang pertama menyambut pagi atau tulus memberi kabar kepada yang masih tertidur, yang jelas ia berkokok dengan suara yang tidak begitu merdu dibandingkan kicau burung.

Memang suasana yang menyenangkan ini tidak bertahan lama, rutinitas memanggil saya untuk lekas menikmati guyuran air yang menyegarkan dan kemudian menyantap hidangan lezat buatan ibu tersayang. Lagi dan lagi ini adalah alasan saya menyukai pagi. Tetapi waktu seakan memiliki roda yang membuatnya tidak diam di tempat. Dengan kecepatan yang konstan jarum jam bergerak dan memaksa saya bergegas memenuhi panggilan hidup. Yah, bekerja adalah panggilan hidup, terasa berat memang, tapi untunglah suasana pagi sudah cukup menghibur dan memberi bekal cukup untuk menjalani siang.

Seperti kehilangan harta dan kekayaan
Demikianlah seseorang yang dikhianati sahabatnya
Seperti roh meninggalkan tubuh
Demikianlah seseorang yang kehilangan cintanya
Seperti jatuh dari atap yang tinggi
Demikianlah seseorang yang diperlakukan tidak adil

Ada satu hal yang mendahului yang kedua, ketiga, dan yang lainnya
Mengampuni yang menyembuhkan jiwa; Rasanya seperti aliran air deras yang membilas amarah
Ada dua yang bermegah di atas yang pertama, ketiga, dan yang lainnya
Kesabaran dan ketegaran; Kaki-kakinya menghantarkan raga ke tujuan
Ada tiga yang melampaui jauh di antara yang pertama, kedua, dan yang lainnya
Pemulihan, sukacita, dan harapan; Bagai sayap-sayap terbang yang melaju di atas hambatan angin

Apa Maumu?

Lagi dan lagi engkau mengguncang bangsaku, mungkin bangsamu juga. Lagi dan lagi nyawa seakan tak ada harganya, cuma sekumpulan darah dan tubuh terkulai. Lagi dan lagi kau sebarkan benih ketakutan, keberanianmu keji.

Ya, kau telah berhasil mencekam kami, lantas apa untungmu? Kau telah menyebar benih curiga dan fitnah, lantas apa hebatmu? Kau telah mencoreng nama baik kami, lantas apa raihmu?

Keyakinankah yang membuatmu begimu? Sesat!
Berjuangkah kau demi itu? Sia-sia!
Puaskah kau dengan semua ini? Semoga Tuhan mengampunimu!

Pagi Buta

Angin tak memiliki mata
Tapi kulangkahkan kaki mengintai geraknya
Pepohonan dibelainya lembut
Sampah-sampah diusir dari permadani kakiku
Perlahan dituntunnya aku
Menapaki tanah dan bebatuan
Menuju tempat teduh dan damai
Kupejamkan mata bagai orang buta
Agar terbuka mata hatiku
Merasakan hembusan nafas alam
Mendengar bisikan Ilahi
Melihat terang menyambut pagi

Kearifan Air

Awalnya aku ingin airku mengalir tenang
Tapi apa kulihat!?
Diam-diam tanah menyerapnya perlahan
Bebatuan membelokkan butir-butir lembut
Senyum mentari memikat hatinya lugu
Akh! Apa hendak kukatakan?
Pikirku…
Mengapa tak kuhanyutkan saja semua?
Kuluapkan gelombang terusik
Sampai suatu hari kulihat
Daun-daun hijau melambai dari kejauhan
Ikan-ikan menggelitik lucu
Kudengar sayup
Anak kecil riang bermandi hujan
Airku tak pernah habis
Tak kuhiraukan lagi asalnya
Misteri itu telah terselami dalam airku

Tulisan Sebelumnya »